Buah Fikir


buahfikir-1

De omnibus dubittandum! Segala sesuatu harus diragukan, Desak Rene Descartes. Namun segala yang ada dalam hidup ini dimulai dengan meragukan sesuatu. Bahkan Hamlet si peragu berseru kepada Ophelia: Ragukan bahwa bintang-bintang itu api Ragukan bahwa matahari itu bergerak Ragukan bahwa kebenaran itu dusta Tapi jangan ragukan cintaku. Kebenaran adalah pernyataan tanpa ragu !

Bersama dengan pak Ali saya berpandangan harus jelas apa yang ingin saya katakan. Kata dalam kalimat harus tersusun berdasarkan data yang baik dan sejenis daya dukung lainnya. Kerangka berbikir yang dianut Pak Ali sering mengatakan wawasan berpikir harus dalam kerangka berpikir logis, masuk akal. Berbicarakan apa saja dengan pak Ali sering berhenti dengan tiba-tiba ketika memasuki ranah logis atau tidak logis. Ini penting sehingga yang dibicarakan tersebut harus bertul-betul bermanfaat dan masuk akal. Merencanakan apa saja, baik itu secara pribadi maupun pemerintahan, dalam pandangan pak Ali harus masuk akal. Tidak elok merencanakan sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh akal atau tidak logis. ”Bangunan kerangka berpikir semestinya adalah ranah logical frame work/ kerangka berpikir yang masuk akal. Tidak boleh anda hanya bilang kata- katanya, harus jelas,” ungkapnya lebih dalam mencermati persoalan logika. Saya sering melihat ketika staf pak Ali memberikan yang dikatakan laporan, baik staf secara Pemerintahan maupun staf di dunia usaha, pendidikan, perbankkan dan urusan lainnya termasuk juga sektor pertanian, pak Ali sering mengatakan.”Jangan anda ngarang ya, tidak masuk akal yang anda sampaikan. Seseorang dalam melakukan apa saja , harus diolah terlebih dahulu oleh akal pikiran, apakah yang disampaikan itu benar atau sedang latihan vocal biasa, latihan berbicara…” Jika tidak logis, Pak Ali lebih mencermati menjadi cengkerama biasa tanpa arti dan makna. Didalam mengelola pemerintahan, kerangka berpikir yang logis harus menjadi sandaran, terutama pemimpin di unit-unit yang ada. Apakah masuk akal dari sebuah program itu harus ada. Harus ada pula kajian landasan kebutuhan yang menjadi basis dari setiap program yang dilakukan. Jangan kemudian dalam hemat Pak Ali semua larut melakukan sesuatu sebatas serimonial. ”Orang melakukannya semua ikut melakukanya. Kalau tidak dibutuhkan dan logis, jangan lakukan. Harus mengedepankan kerangka berpikir yang mandiri, untuk kebutuhan yang sebenarnya,” tegasnya.

(baca tertulis dalam buku Filsafat Ilmu sebuah pengantar popular oleh Jujun S. Suriasumantri halaman: 50)

 

Comments are closed